Saturday, 26 September 2015

Profil Lengkap Anggota Pelawak Legendaris "WARKOP DKI"


WAHYU SARDONO (DONO - WARKOP)

Drs. H. Wahjoe Sardono lebih dikenal dengan Dono Warkop lahir di Solo 30 September 1951 adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm serta beragama Islam. Ia juga dikenal sebagai aktor pada akhir 1970-an, tahun 1980-an dan era 1990-an. Dono meninggal pada 30 Desember 2001 akibat Kanker Paru-Paru.
Pendidikan:
Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia
Karir:
Penyiar Radio Prambors (1974-1980)
Asisten Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980)
Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI
Alamat Rumah:
Jalan Pulo Asem Utara 13/18, Jakarta Timur.
Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat. Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indrojoyo Kusumonegoro karena penyakit kanker dan paru-paru, dan ginjal yang lama dideritanya. Pria kelahiran Solo, 31 September 1951 itu menyusul istrinya, Titi Kusumawardhani yang telah meninggal 14 Agustus 1999 karena serangan penyakit kanker. Dan meninggalkan tiga orang anak, masing-masing Andiko Ario Seno(21), Damar Canggih Wicaksono (15), dan Satrio Sarwo Trengginas (10). Dono putra keempat dari tujuh saudara seorang ayah, Citro Sudiono ini disemayamkan ke tempat peristirahatan terakhir, di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, blok AA II.
Prosesi pemakaman pelawak senior anggota Warkop DKI siang kemarin, memang benar-benar mengharukan. Ribuan pelayat turut meneteskan air matanya karena tidak kuat menahan kesedihan melihat kepergian mantan dosen jurusan Sosiologi FISIP UI itu. Rintikan hujan pun ikut menghantar kepergian dari rumah duka sampai di sholatkan di masjid Jami ' Nurul Huda, yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah almarhum.Hujan mulai reda, setelah di berangkatkan dari masjid ke Tanah Kusir. Tampak hadir di antara ribuan pelayat diantaranya Prof Yuwono Sudarsono, Prof Selo Sumardjan, Taufiq Savalas, Ulfa Dwi Yanti, Miing Bagito, Us Us, Sandy Nayoan, Debby Sahertian, Robby Tumewu, Mus Mulyadi, Gugun Gondrong, Sys SN, Renny Jayusman, dan Putu Wijaya. Indro, satu-satunya personil Warkop yang tersisa, pada wartawan menceritakan bagaimana sahabatnya berjuang selama 24 jam menghadapi maut.
"Saya menunggu dia dari subuh kemarin. Dan melihat perjuangan dia selama 24 jam menghadapi maut," ujar Indro yang juga ditunjuk sebagai wakil keluarga. Sejak dibawa ke rumah sakit dua hari lalu, Lanjut Indro, penyakit anggota 094 Mapala UI itu keadaanya memang sudah sangat parah. Komplikasi antara tumor, ginjal dan paru-paru basah terus menggerogoti tubuhnya. Hingga meninggal, tanpa pesan apapun. Termasuk juga keberlangsungan Warkop dan ketiga anaknya. Tentang penyakitnya, Pertama ketahuan, Dono menderita penyakit tumor di bokongnya awal September setahun lalu. Dan sekitar tanggal 25 September 2000, tumor itu telah berhasil diangkat. Namun yang disayangkan, sejak itu tidak pernah diperiksa lagi.
Itulah yang namanya Dono. Rupanya pribadinya yang tertutup, tercermin dalam kehidupan sehari-harinya. Dia terlalu takut dengan dokter. " Dan saya adalah orang yang paling berisik dalam hal ini. Dia sudah tak punya istri lagi. Siapa lagi yang akan memperhatikan," tambah Indro sambil mengusap air matanya yang jatuh dipipinya. Karena penyakitnya itulah, akhirnya merambat keorgan tubuhnya yang lain. Dan kedatangannya ke rumah sakit itu juga atas paksaan Indro. Sampai2 Indro terus memaksakan agar penyakit sahabatnya itu diperiksakan kembali ke dokter.Hal ini dikarenakan, kondisi Dono lama kelamaan semakin kurus. " Ketika saya paksa, dia bilang aku sama Ario(anaknya)saja. Saya pikir yah mungkin mendidik anak. Namun, ketika saya monitor, ternyata belum berangkat. Itu terjadi sekitar tiga bulan yang lalu," kenang dia. Indro melanjutkan, sehari setelah itu di telepon, yang mengabarkan ternyata Dono terkena paru-paru basah. Indro pikir kalau hanya paru-paru basah, disedot saja sudah selesai. Dirumah sakit, dokter yang menanganinya, sempat menanyakan apakah Dono pernah terkena tumor. Indro menjawab, pernah tapi sudah diangkat. " Dari ungkapan dokter inilah sebenarnya saya sudah mulai terasa kalau dia akan menyusul istrinya. Tapi saya tidak mengungkapkan dan ndak berani ngomong. Karena tak menguasai ilmu kedokteran, " lanjut Indro. Sampai akhirnya dirawat ke rumah sakit.
Saat dirawat ada dua alternatif dalam menanganinya penyakit Dono, yaitu termoterapy atau tumornya diambil kembali. Namun, Allah menentukan lain. Bersamaan dengan penolakan dua pilihan yang ditawarkan oleh tim kedokteran RS St Carolus, Dono meninggal dengan tenang pukul 00.50 dini hari setelah Indro membisikan sesuatu ke telinganya, " Saya ikhlas mas, kalau mas Dono ingin tinggalkan kami," ujarnya sambil meneteskan air mata.
Dedi Gumelar alias Miing Bagito mengatakan, dunia komedi Indonesia sangat kehilangan dengan meninggalnya Wahyu Sardono yang lebih dikenal dengan Dono Warkop pada Minggu dini hari di RS St Carolus Jakarta.
"Saya kira semua pelawak merasa sangat kehilangan. Mas Dono adalah pelawak senior dan sekaligus guru buat saya," ujarnya kepada pers ketika berada di RS St Carolus Jakarta Pusat, Minggu dini hari, beberapa saat setelah almarhum Dono menghembuskan napas terakhirnya.
Almarhum Dono meninggal dunia sekitar pukul 01.00 WIB akibat penyakit kanker paru-paru, setelah sempat dirawat sejak Sabtu (29/12) dini hari.

Miing menambahkan, dirinya memiliki kesan mendalam dengan almarhum karena pernah bekerja dengan Dono dkk di Warkop hampir selama lima tahun lebih, sebelum dirinya merintis Bagito grup pada 1986.
Dikatakannya, dirinya punya kesan tersendiri kepada Warkop DKI yang dinilainya telah berjasa mempengaruhi karir dan kehidupannya, baik secara sosial maupun ekonomi. "Saya banyak belajar dari almarhum," katanya.
Almarhum Dono, menurut Miing, adalah seorang yang spontan dalam gagasan, selalu bangun pagi, dan senang berjalan kaki.
Menurut Miing, dirinya terakhir kali bertemu almarhum pada Minggu (23/12) lalu beberapa saat sebelum Dono meninggalkan Rumah Sakit yang sama setelah beberapa hari sempat dirawat.
"Waktu itu saya bilang, Mas Dono cerah sekali, dan dia bilang 'ia nih aku sehat'. Kita sempat bercanda. Tetapi Sabtu dini hari (29/12) masuk lagi ke sini, saya baru tahu tadi," katanya.
Dalam pembicaraan terakhirnya, Miing mengaku hanya menyampaikan pesan agar Mas Dono optimis bahwa dirinya bisa sembuh.

KASINO HADIWIBOWO (KASINO - WARKOP)

Kasino Hadiwibowo (Gombong, Jawa Tengah, 15 September 1950 - Jakarta, 16 Desember 1997) adalah pelawak Indonesia yang tergabung dalam kelompok lawak Warkop.
Orangtuanya, dia sendiri, dan bahkan Fakultas Ilmu Sosial UI, tempatnya dulu menuntut ilmu, mungkin tidak pernah membayangkan ia bakal menjadi pelawak. Tetapi dia mengaku bahwa sense of humour dimilikinya sejak dulu. Dari kecil saya sudah suka ngejailin orang tutur Kasino yang panggilan akrabnya Seky (artinya, si pesek). Di kampus, kebetulan Seky bertemu orang-orang yang sealiran, seperti Nanu Mulyono (almarhum) dan Wahjoe Sardono. Jadilah mereka membanyol, meng-kick sana-sini.Keberuntungan Seky bermula di malam Jumat, saat ia dan kawan-kawannya kongkow di radio Prambors, cuap-cuap sekenanya model obrolan di warung kopi. Ternyata, acara begitu banyak peminatnya. Setiap acara tiba, pisang goreng, ketan pakai kelapa parut, dan banyak makanan lain, menumpuk di studio. Kebanyakan yang mengirim ibu-ibu, kata Kasino. Mereka kemudian menjadi laris, sebagai penjual tawa.
Di dunia lawak, kehadiran Kasino dan kawan-kawan mengembuskan angin segar. Mereka bukan lagi mengesankan orang udik, tidak makan bangku sekolah, dan mengandalkan plesetan bicara, seperti yang sering dikesankan pelawak sebelumnya. Kelompok Warkop mewakili generasi pelawak terpelajar, yang memiliki warna baru dalam membanyol.
Karier dalam film pun terus melaju. Dalam film Maju Kena Mundur Kena, Kasino dan kedua kawannya masuk dalam kelompok artis yang pernah dibayar paling mahal. Melucu dalam film lebih gampang. Kalau dialognya tak lucu, gambarnya bisa dibikin lucu. Hal ini tak bisa dilakukan di atas panggung atau dalam rekaman kaset.
Ketika menjadi mahasiswa, Kasino banyak menghabiskan waktu di lereng-lereng gunung bersama Mapala UI. Ia menikahi Amarmini yang biasa dipanggil Mieke.
Kasino, wafat pada usia 47 tahun, di selasa malam tanggal 16 Desember 1997, di rumah sakit cipto Mangunkusumo Jakarta Setelah menderita tumor otak. Kasino meninggalkan satu istri dan dua anak.
Pendidikan
* SDN Budi Utomo, Jakarta (1963)
* SMPN 51 Cipinang, Jakarta (1966)
* SMAN 22 Jatinegara, Jakarta (1969)
* Fakultas Ilmu Sosial - Jurusan Administrasi Niaga, Universitas Indonesia (1979)
Karir
* Penyiar Radio Prambors (1974-1980)
* Pimpinan Warung Kopi Corporation
Filmografi
* Mana Tahan (1980)
* Gengsi Dong (1980)
* Gede Rasa (1981)
* Pintar-pintar Bodoh (1981)
* Manusia Enam Juta Dolar (1982)
* IQ Jongkok (1982)
* Setan Kredit (1982)
* Dongkrak Antik (1982)
* Chip (1983)
* Maju Kena Mundur Kena (1983)
Kegiatan Lain
* Direktur Klinik Spesialis Rawamangun (sampai 1983)
16 September 1997, Warkop DKI berduka. Kasino Hadiwibowo alias Kasino Warkop meninggal dunia pada usia 47 tahun. Suami Amarmini itu meninggal akibat menderita tumor otak di Rumah Sakit Cipto Mangukusumo, Jakarta. Indro tidak sempat melihat langsung detik-detik nyawa Kasino melayang.
Selama dalam perawatan, Indro dan Dono berbagi tugas menjaganya. Hari itu, tepat tugas Indro yang menungguinya. Sebelum malam, Indro pulang ke rumahnya untuk menemui Istrinya. Rencananya, malam akan kembali ke rumah sakit.
Dokter jaga menelpon dan memberitahukan, kondisi Kasino kritis. Indro panik. Dengan motornya ia melaju. Setibanya di rumah sakit, dari parkir mobil ia harus berlari menuju ruang rawatnya. “Kasino sudah meninggal,” ujar dokter setibanya.
Indro terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. Ia terlihat menahan rasa sedihnya dengan peristiwa itu. Saya ikut terdiam. Indro melanjutkan ceritanya. “Semua keluarga besar Warkop termasuk istri saya, yang terakhir dikabarin.” Indro terdiam lagi. “Saya tidak ingin keluarga panik,” ujarnya. Kasino dikubur di pemakaman Tonjong, Bogor.
Pekan lalu, saya mengunjungi rumah tinggal keluarga almahum Kasino di kawasan Kayu Putih, Jakarta Timur. Saya ditemui putri tunggalnya, Hanna Sukmaninggsih, 31 tahun. Sudah menikah dan belum punya anak. Ia alumni Universitas Trisakti Jurusan Design dan Universitas Indonesia di Fakultas Psikologi.
Di rumahnya, Hanna berjualan kue ala Belanda. Rumah itu bukan peninggalan Kasino. “Ini rumah keluarga ibu,” katanya. Dulu, rumahnya berada persis di rumah yang ditinggalinya sekarang.
“Peninggalan Papa sudah tidak ada lagi. Sudah dijual untuk biaya pengobatan. Rumah, mobil dan semua peninggalan sudah habis,” ujarnya. “Kan, Papa menjalani perawatan sekitar setahun lebih.”
Kasino meninggal ketika Hanna masih kuliah. Untuk biaya hidup sehari-hari, ibunya yang bekerja ditambah dengan uang sisa hasil penjualan barang-barang keluarga. Dari situlah, Hanna menamatkan pendidikannya.
Menjelang kematian Kasino, Hanna dan Ibunya sedang pulang ke rumah untuk mengambil pakaian. Dan malam itu, tidak ada satu pun keluarga yang ada di samping Kasino. Kasino, kata Hanna, seakan tidak ingin kepergiannya dilihat langsung oleh keluarganya. Kabar duka itu malah diketahui dari sepupunya yang lebih dulu tiba di rumah sakit.
Kanker otak yang diderita Kasino, katanya, diduga saat dirinya jatuh dari sepeda gunung yang dikendarainya. Karena semenjak itulah Kasino mulai sakit-sakitan di bagian kepalanya. “Tidak ada pesan apa pun dari Papa sebelum meninggal,” ujarnya.

Drs. H. Indrodjojo Kusumonegoro (Indro Warkop)

Drs. H. Indrodjojo Kusumonegoro lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, 8 Mei 1958, sapaannya adalah Indro, beragama Islam dan bertinggi badan 175 cm adalah salah seorang anggota grup lawak Warkop, grup lawak Indonesia yang terkenal di era 1980-an dan 1990-an. Pendidikan terkahirnya adalah Sarjana Ekonomi, Universitas Pancasila. Hobinya adalah Mengendarai dan Touring dengan Motor Harley Davidson.
Indro Warkop atau lengkapnya Indrodjojo Kusumonegoro adalah salah satu personel komedian legendaris Warung Kopi DKI (Warkop DKI) bersama Dono (Wahjoe Sardono) dan Kasino (Kasino Hadiwibowo).
Awal Warkop eksis saat diberi kesempatan untuk tampil di Radio Pambors Jakarta untuk mengisi acara obrolan komedi. Indro sendiri saat itu masih kuliah di Universitas Pancasila Jakarta, sementara teman-temanya mahasiswa Universitas Indonesia (UI).
Indro yang lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, 8 Mei 1958, mendapatkan peran sebagai Mastowi seorang pria asal Tegal. Namun demikian dirinya beberapa kali juga tampil dengan logat batak di film-film komedinya.
Kini Indro yang memiliki hobi mengendarai dan touring dengan Motor Harley Davidson itu tetap aktif sebagai pelawak. Bahkan dipercaya untuk menjadi ketua sebuah persatuan pelawak.
Karir:
Penyiar Radio Prambors (1977-1980)
Pimpinan PASKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia)
PROFIL: INDRODJOJO KUSUMONEGORO (INDRO - WARKOP)
SEMASA berada di puncak kejayaan, Indrodjoja "Indro Warkop" Kusumonegoro, gemar sekali memboyong keluarganya berlibur ke Eropa dan Australia. Tapi, belakangan ia membawa mereka ke Tanah Suci Mekkah. "Dulu salah jalan gue," ujar komedian yang namanya berkibar di bawah bendera Warkop bersama almarhum Dono dan Kasino itu.
Tahun 2004 adalah ibadah umrah Indro yang ketiga. Bahkan, ia menunaikan ibadah haji tahun sebelumnya. Lelaki kelahiran 8 Mei 1958 itu merasa bahagia bisa melakukan napak tilas perjalanan Nabi. Setiap kali sampai di multazam, Indro tak lupa mengucapkan doa khusus untuk Dono dan Kasino. "Mereka bukan cuma teman bagi gue, bahkan lebih dari saudara," ujarnya kepada Nordin Hidayat dari Gatra.
Rupanya, Indro tak sekadar melakukan napak tilas perjalanan Nabi. Seusai menunaikan rukun wajib, ia mampir dulu ke gerai Harley-Davidson Saudi Arabia di Andalus St., Jeddah. Bersama istri dan ketiga anaknya, Handika "Hade" Indrajanthy Putri, Satya Paramita "Hada" Dwinita, dan Harleyano "Harley" Triandro, penggila motor gede (moge) itu membelanjakan 4120 riyalnya (lebih dari Rp 10 juta) untuk aksesoris moge koleksinya. Bagi pemilik tujuh moge itu, belanja aksesori Harley buat keluarga ibarat ritual tahunan.
Lampu rumah keluarga Indro Warkop tampak terang. Di perumahan mewah Jalan Kayu Putih Tengah, Jakarta Timur, itu tampak tiga motor berdiri berjajar. Dua motor Harley Davidson dan satu motor Yamaha. Seekor burung kenari bertengger dalam sangkar yang bergantung tak jauh dari ketiga motor itu. Satu mobil Jeep putih buatan tahun 1981, terparkir di garasi terbuka. Ada lambang motor Harley Davidson berukuran besar yang terpaku di tembok garasi itu.
Indro memang menggandrungi Harley Davidson. Berbagai aksesoris motor besar buatan Amerika itu pun menjadi penghias di ruang tamunya. Ada yang terbuat dari tembaga dan berbentuk lukisan biasa. Miniatur sepeda tua di dalam figura kaca, berdiri di meja kiri. Boneka berkepala singa, terpajang di meja sudut kanan.
Siang itu, Indro duduk santai di samping pajangan boneka singa. Persis menghadap keluar rumah. Di rumahnya tak ada asbak rokok. Maklum, sejak dirinya didiagnosis terkena gejala penyakit jantung, ia berhenti merokok.

Malam itu, pertengahan Mei, ia mengenakan baju berbahan jeans berlengan buntung dan celana “kargo” gunung berwarna coklat. Ujung lengan dekat bahu bagian kanan dan kirinya, ditato lambang Harley Davidson. Telinga kiri berusia 49 tahun itu dihiasi tiga anting perak dan dua anting di telinga kanannya. Penampilan garang itu rasanya pas dengan hobinya mengendarai motor besar.
“Gue udeh nggak konvoi-konvoi lagi. Pake motor Harley, pas memang lagi kepengen jalan aja. Maunya sih, pake motor kecil. Tapi, kasihan motornya. Badan segede gini, kok pake motor kecil,” Indro tertawa sambil memperlihatkan badannya.
Menggendarai motor Harley Davidson, hobi yang mendarah-daging dari keluarganya. Di komunitas Harley Davidson, ia menjabat sekretaris jenderal cum pendiri pertama Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Karena kegandrungannya, anak bungsunya ia beri nama Harley. Motor pertamanya dibeli tahun 1975.
“Ini mobil pertama yang gue punya. Keluaran tahun 1981,” ujarnya. “Mobil ini gue beli karena jasa Warkop. Makanya, gue piara banget ampe sekarang. Pokoknya nggak mau gue jual.”
“Semua yang gue punya, berkat jasa Warkop. Nggak ada pendapatan lain.”
Baginya, Warkop adalah darah daging. Meski sendirian, ia tak ingin Warkop pupus. Ia merasa masih sebuah keluarga. Keluarga yang harus dipertahankan. “Warkop kan, tinggal gue doang. Ya, gue yang memberikan saran dan mengawasi kehidupan mereka,”
Mereka yang dimaksud Indro adalah anak-anak keluarga Warkop, mulai Dono hingga Kasino. “Kalo dihitung-hitung, gue udeh punya anak tujuh. Tiga anak gue, satu anak Kasino, dan tiga anaknya Dono.”

No comments:

Post a Comment