Saturday, 10 October 2015

Mitsuo Fuchida - Kapten Pilot pemimpin serangan Pearl Harbor



Sebagian dari kita tentu pernah menonton film Hollywood yang berjudul “Pearl Harbor” kan? Film mengisahkan kisah cinta segitiga antara dua pilot Amerika Serikat dengan seorang perawat, kisah mereka sebagai korban dan pahlawan terhadap peperangan melawan kekejaman Kekaisaran Jepang. Dalam ketegangan film tersebut disaat-saat Jepang telah siap menyerang “Pearl Harbor” ada seorang pilot Jepang yang menerikan “Tora! Tora! Tora!” yang merupakan tanda operasi itu akan dimulai. Kisah berikut ini adalah kisah nyata pilot tersebut yang bertobat menerima Kristus dan kemudian menjadi penginjil bagi negerinya.

Mitsuo Fuchida (淵田 美津雄) lahir pada 3 December 1902, adalah seorang Kapten dan pembidik bom di Imperial Japanese Navy Air Service sebelum dan selama Perang Dunia ke II. Ia dibesarkan dan didoktrin untuk mencintai tanah airnya Jepang dan membenci Amerika Serikat dengan alasan perlakuan kasar pada para imigran Asia pada paruh pertama abad kedua puluh. Fuchida belajar di akademi militer dan kemudian bergabung dengan Imperial Japanese Navy Air Service yang pada tahun 1941 sudah memiliki 10.000 jam terbang dan telah membuktikan dirinya sebagai teladan. Ketika para pemimpin militer Jepang membutuhkan seseorang untuk memimpin serangan mendadak terhadap Pearl Harbor maka mereka memilih Fuchida.

Fuchidalah yang mengirim kode sandi "Tora! Tora! Tora!" (Tiger! Tiger! Tiger!) yang terkenal itu ke kapal induk. Keberhasilan misi sangat mengejutkan, lebih terkejut lagi bahwa ia mengetahui bahwa dari 70 perwira yang ikut serta dalam serangan itu, ia adalah satu-satunya yang kembali hidup.

Pada tahun 1945 ia telah menjabat posisi Chief Operations Air Imperial Japanese Navy. Pada tanggal 6 Agustus ketika sedang sarapan di kota Nara, Jepang, di mana markas militer baru sedang dibangun, ia terkejut ketika mendengar tentang sebuah bom telah dijatuhkan di Hiroshima. Dia terbang untuk menyelidiki, kemudian mengirim laporan mengejutkan ke Markas Pusat.

Pada hari yang sama, seorang tahanan perang Amerika bernama Jacob DeShazer merasa digerakkan oleh Roh Kudus untuk berdoa bagi perdamaian. DeShazer telah di penjara sejak 1942 sebagai anggota pasukan Raiders Doolittle, ia menjatuhkan bom di dekat Tokyo dan kemudian mendarat di Cina dan tertangkap. Ketika dipenjara, pertama di Nanjing dan kemudian di Beijing, DeShazer telah menjadi seorang Kristen. Dia belajar mengampuni kepada tentara-tentara Jepang yang menangkapnya. Setelah dibebaskan, DeShazer menulis artikel yang dipublikasikan secara luas, "Aku Adalah Tawanan Jepang" merinci pengalamannya ketika ditangkap, bertobat dan belajar mengampuni.

Fuchida dan DeShazer bertemu pada tahun 1950. DeShazer telah kembali ke Jepang pada tahun 1948 sebagai misionaris. Fuchida telah membaca kesaksian DeShazer, membeli sebuah Alkitab dan bertobat dari Budha ke Kristen. DeShazer baru saja selesai puasa selama 40 hari untuk kebangunan rohani di Jepang ketika Fuchida datang ke rumahnya dan memperkenalkan diri. DeShazer menyambutnya dan mendorongnya untuk dibaptis. Sementara DeShazer terus menginjil di seluruh Jepang demikian juga Fuchida yang menjadi penginjil, menyebarkan pesan perdamaian dan pengampunan di negeri asalnya dan di seluruh masyarakat Asia-Amerika.

Fuchida meninggal pada tanggal 30 Mei 1976. Seperti Alfred Nobel, yang ingin dinamitnya digunakan dalam perdamaian demikian Fuchida ingin kenangan buruk akan dirinya diganti dengan kedamaian. Ia menulis, "Pagi itu [7 Desember] ... Aku mengangkat tirai perang dengan mengirimkan perintah yang dikutuk, dan aku menempatkan seluruh upaya dan tenagaku ke dalam perang yang luas .... [Tapi] setelah membeli dan membaca Alkitab, pikiran saya sangat terkesan dan terpesona. Saya pikir saya bisa mengatakan hari ini tanpa ragu-ragu bahwa kasih karunia Allah telah ditetapkan pada saya. "

No comments:

Post a Comment